FRAGMEN I
Kilas Balik Kehidupan
Keseharian yang belum lama kujalani memang berbanding terbalik dengan apa yang kujalani sebelum melepas lajang dulu. Dulu, saya selalu akrab dengan kesendirian--duduk di pojok kafe, menyeruput kopi serta mengunyah buku. Perasaan sepi yang biasa ditakutkan kebanyakan orang, justru menjadi suatu hal yang amat kunikmati selama bertahun-tahun. Saya senang suasana sublim dengan diri sendiri dan bacaan yang sedang kutelan.
Dan, kilas balik hidup itu justru sangat berbanding terbalik setelah saya sudah melewati fase menjadi sepasang. Setiap tempat yang kutuju selalu ada seseorang di samping langkahku, setiap suap yang ku makan selalu beriringan dengan apa yang ia suguhkan, setiap detik yang berjalan selalu bersahutan dengan waktu yang ia berikan. begitu seterusnya dan seterusnya.
Dan, saya mulai asing dengan perasaan sepi yang dulu kunikmati, justru di fase sekarang akan terasa aneh jika tidak lagi ada keramaian yang berjubal diantara kuping kanan dan kiriku secara bergantian, terasa subtil ketika aku duduk sendirian di kafe baca buku sendirian, terasa janggal waktu aku makan dan tidak ada seseorang yang bersampingan. saya mulai merasa berada di dunia yang sama sekali berbeda dengan sebelumnya. dan, saya menikmati fase ini, dimensi keramaian ini.
Tak terkecuali dalam hal menulis, dulu apa pun kejadian yang serasa membuat saya tercengang, atau membuat perasaan berkecamuk, semua tercurah limpahkan pada tulisan, pada bait-bait puisi, juga pada perenungan dan duka yang kata Pak Sapardi "abadi".
Akan tetapi di fase ini, tiap yang terjadi medium ceritanya sudah beralih wahana, kepada seorang Istri yang tidak hanya jadi kertas putih tempat ditulisnya segala cerita, melainkan juga serupa telescreen--alat perekam sekaligus komunikasi dua arah di novel 1984 George Orwel.
